Ar-Rabi’ bin Khutsaim, Lisan yang Terjaga dari Berucap Kotor

KISAH INSPIRATIF — Ar-Rabi bin Khutsaim adalah salah satu ulama tabiin yang dikenal paling zuhud pada masanya. Beliau adalah murid dari Abdullah bin Mas’ud, sahabat Rasulullah ﷺ. Ia adalah murid yang paling banyak meneladani sikap dan perilakunya. Hubungan Ar-Rabi dengan gurunya layaknya seorang anak dengan ibunya. Kecintaan guru terhadap muridnya laksana kasih sayang seorang ibu terhadap anak tunggalnya. Ar-Rabi’ biasa keluar masuk rumah gurunya tanpa harus meminta izin. Apabila ia datang, maka yang lain tidak diizinkan masuk sebelum Ar-Rabi’ keluar.

Kesederhanaan Ar-Rabi

Ibnu Mas’ud merasakan ketulusan dan keikhlasan Ar-Rabi, kebaikan ibadahnya yang memancar kuat di hatinya, rasa kecewanya lantaran tertinggal dari zaman Nabi ﷺ sehingga tidak mendapat kesempatan untuk menjadi salah satu sahabat beliau. Ibnu Mas’ud berkata kepadanya, “Wahai Abu Yazid, seandainya Rasulullah melihatmu, tentulah beliau mencintaimu.” Beliau juga berkata, “Setiap kali melihatmu, aku teringat pada para mukhbitin (orang-orang yang tunduk patuh kepada Allah).”

Apa yang dikatakan oleh Abdullah bin Mas’ud tidaklah berlebihan. Sebabnya, Ar-Rabi’ bin Khutsaim telah mampu mencapai kesederhanaan dan ketakwaan yang jarang bisa dilakukan orang lain dan selalu diunggulkan dalam berita-berita yang mengharumkan lembaran sejarah. Di antaranya, salah satu kawannya menjelaskan perihal dirinya.

“Sudah 20 tahun aku berteman dengan ar-Rabi’, namun belum pernah kudengar ia mengucapkan suatu perkataan kecuali perkataan yang naik kepada Allah, lalu beliau membaca, ‘Kepada-Nyalah akan naik perkataan-perkataan yang baik, dan amal kebajikan Dia akan mengangkatnya.‘” (QS Fathir: 10).

Nasihat Ar-Rabi

Hilal bin Isaf bercerita kepada tamunya yang bernama Mundzir ats-Tsauri, “Tidakkah sebaiknya kuantarkan engkau kepada Syekh agar kita bisa menambah keimanan sesaat?” Mundzir menjawab, “Baik, aku setuju. Demi Allah, tidak yang mendorong aku datang ke Kufah ini melainkan karena ingin bertemu dengan gurumu, Ar-Rabi’ bin Khutsaim. Aku rindu untuk bisa tinggal sesaat dalam taman iman bersamanya. Akan tetapi apakah engkau sudah minta izin kepadanya? Kudengar ia menderita penyakit rematik sehingga tidak keluar rumah dan enggan menerima tamu?”

Hilal berkata, “Memang begitulah orang-orang Kufah mengenalnya, sakitnya itu tidak mengubahnya sedikit pun.” Mundzir berkata, “Baiklah. Tetapi Anda tahu bahwa Syekh ini memiliki perasaan yang halus, apakah menurut Anda kita layak mendahului bicara dan bertanya sesuka kita? Atau kita diam saja menunggu beliau mulai bicara?”

Hilal menjawab, “Andaikata engkau duduk bersama Ar-Rabi’ bin Khutsaim selama setahun lamanya, maka ia tidak akan bicara apa pun, kecuali jika engkau yang mulai berbicara dan akan terus diam apabila tidak engkau dahului dengan pertanyaan. Sebabnya, ia menjadikan ucapannya sebagai zikir dan diamnya untuk berpikir.”

Mundzir berkata, “Kalau begitu, marilah kita mendatanginya dengan berkah Allah Taala.” Kemudian pergilah keduanya kepada Syekh itu. Setelah memberi salam, mereka bertanya, “Bagaimana kabar Anda pagi ini, wahai Syekh?” Ar-Rabi’ menjawab, “Dalam keadaan lemah, penuh dosa, memakan rezeki-Nya, dan menanti ajal-Nya.”

Mundzir bertanya, “Kalau demikian, apa penyakit yang Anda derita, wahai Syekh?” Ar-Rabi’ berkata, “Penyakitnya adalah dosa-dosa.” Mundzir bertanya lagi, “Lantas, apa obatnya?” Ar-Rabi’ menjawab, “Obatnya adalah istigfar.” Berkatalah Mundzir, “Bagaimana bisa pulih kesehatannya?” Ar-Rabi’ menanggapi, “Dengan bertobat, kemudian tidak mengulangi dosanya. Beliau menatap kedua tamunya sambil berkata, “Dosa yang tersembunyi, dosa yang tersembunyi. Waspadalah kalian terhadap dosa yang meski tersembunyi dari orang-orang, tetapi jelas bagi Allah Taala. Segeralah datangkan obatnya!” Mundzir kemudian bertanya lagi, “Apa obatnya?” Ar-Rabi’ menjawab, “Dengan tobat nasuhah.” Lalu beliau menangis hingga basah jenggotnya.

Sepanjang berdialog dengan Ar-Rabi’, Hilal dan Mundzir menemukan banyak hikmah dari setiap ucapan yang keluar dari lisannya. Mereka pun meminta nasihat kepada ar-Rabi’. Hilal berkata, “Wahai Syekh, berilah aku nasihat.”

“Wahai Hilal, janganlah engkau teperdaya dengan banyaknya sanjungan orang terhadapmu, sebab orang-orang tidak mengetahui siapa dirimu yang sebenarnya, melainkan hanya melihat lahiriahmu saja. Ketahuilah, sesungguhnya engkau tergantung pada amalanmu, setiap amalan yang dikerjakan bukan karena Allah Swt. akan sia-sia,” ujarnya.

Selanjutnya Mundzir juga meminta hal yang sama. “Berilah wasiat kepadaku juga, semoga Allah membalas kebaikan Anda,” katanya.

“Wahai Mundzir, bertakwalah kepada Allah Swt., terhadap ilmu yang telah kau ketahui dan yang masih tersembunyi bagimu, serahkanlah kepada yang mengetahuinya.”

“Wahai Mundzir jangan sekali-kali salah satu dari kalian berdoa, ‘Ya Allah, aku telah bertobat’, lalu tidak melakukannya, sebab ia dianggap dusta. Tapi katakanlah, ‘Ya Allah, ampunilah aku’, maka itu akan menjadi doa.”

“Ketahuilah wahai Mundzir, tidak ada kebaikan dalam ucapan melainkan untuk tahlil, tahmid, takbir, dan tasbih kepada Allah, kemudian bertanya tentang kebaikan, menjaga dari kejahatan, menyeru yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan membaca Al-Qur’an.”

Di akhir pertemuan dengan kedua tamunya itu beliau juga berpesan agar memperbanyak mengingat mati, karena ia adalah perkara gaib yang amat dekat tiba saatnya. Sesuatu yang gaib meskipun lama waktunya, pasti serasa dekat ketika datangnya.”

Khatimah

Ar-Rabi’ mengisi seluruh hidupnya untuk menanti kematian dan mempersiapkan bekal untuk menjumpainya. Pada saat ajal mendekatinya, putrinya menangis, lalu beliau berkata, “Apa yang membuatmu menangis, wahai putriku? Padahal, kebaikan tengah menanti di hadapan ayahmu.” Sesaat kemudian ia berpulang ke haribaan Rabb-nya.

Kisah Ar-Rabi’ bin Khutsaim mengajarkan bahwa kematian adalah sebaik-baik pengingat. Dengan mengingat mati, kita akan termotivasi untuk terus memperkaya diri dengan amal saleh dan senantiasa berhati-hati dalam berucap dan berbuat. [MNews/YG] [sumber: muslimahnews.net/]

Facebook
WhatsApp
Twitter
Email
Telegram
Scroll to Top